Pengadaan motor listrik "siluman" dan kaos kaki seharga Rp 100.000 per pasang menunjukkan inefisiensi patologis dalam anggaran negara. Menggunakan teori Opportunity Cost, pemborosan pada belanja non-produktif di tengah inflasi pangan adalah kegagalan kebijakan fiskal. Berdasarkan standar INTOSAI (International Organization of Supreme Audit Institutions), transparansi dan akuntabilitas adalah amanah mutlak yang harus dipertanggungjawabkan kepada publik.
English:
The procurement of "ghost" electric motorcycles and Rp 100,000 socks demonstrates a pathological inefficiency in the national budget. Utilizing the Opportunity Cost theory, wasteful non-productive spending during food inflation is a fiscal policy failure. According to INTOSAI standards, transparency and accountability are absolute mandates that must be held accountable to the public.
Referensi: INTOSAI Auditing Standards, Macroeconomic Opportunity Cost Theory.
https://x.com/arikprJFS

Tidak ada komentar:
Posting Komentar